A.
Latar Belakang
Masyarakat global saat ini secara serius dihadapakan pada pengaruh
system nilai sekuler dan materialis. Semua lapisan masyarakat, baik orang tua,
pendidik, kini tengah menghadapi dilemah besar dalam pendidikan, yaitu “
tentang bagaimana cara terbaik untuk mendidik generasi muda dan mempersiapkan
mereka menghadapi tantangan global di masa mendatang”.
Permasalahan
yang ada dalam dunia pendidikan formal bertambah dari tahun ke tahun. Salah
satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya
kualitas pendidikan formal pada setiap jenjang pendidikan. Korupsi terjadi hampir
diseluruh lapisan masyarakat. Konsumen barang terlarangseperti narkoba semakin meningkat. Di sisi lain kurangnya
pengamalan nilai-nilai agama sebagai tatanam hidup yang diharapkan menjadi karakter bangsa. Pendidikan karakter
mulai dilirik tapi formatnya bukan pendekata agama, sehingga hasilnya nanti
akan semakin tidak jelas.
Tak dapat dipungkiri sebagai
fakta sejarah, kebijakan pendidikan nasional
kita adalah pesan atau perintah
Undang-Undang Dasar untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pendiri Negara ini
menyadari bahwa tanpa kecerdasan, tujuan
hidup manusia tidak akan tercapai. Tujuan hidup yang dimaksud adalah
untuk mengabdi kepada
Tuhan (sebagai pengamalan sila
pertama Dasar Negar) dengan harapan mendapatkan kesenangan hidup
kelak yakni masuk surga. Hal ini
sesuai dengan harapan-harapan yang
senantiasa dipanjatkan dalam doa-doa mereka, sebagaimana Allah penciptanya menyingkap dalam firmannya
:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
Artinya :
Dan
di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka".(QS. Al- Baqarah (2) : 201)
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Manajemen pendidikan harus dibenahi, profesionalisme guru perlu
ditingkatkan dan karakter anak didik mutlak harus dibina. Pembinaannya dengan
penanaman nilai-nilai agama sejak dini. Untuk mencapai hal tersebut, peran guru
sangat diperlukan. Guru bertanggung jawab untuk mendidik dan membimbing
muridnya. Karena itu, guru harus memiliki sejumlah pengetahuan, keterampilan,
dan kecakapan dasar dalam melaksanakan tugasnya, di antaranya adalah pengaturan waktu belajar yang dituangkan
dalam roster pelajaran.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan hal yang mendasar
bagi suatu bangsa, karena merupakan faktor utama yang mempercepat terjadinya
proses perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan dan
kemajuan suatu bangsa ditandai dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan
dan penguasaan teknologinya dalam pembangunan di segala bidang khususnya bidang
pendidikan. Allah pencipta manusia mengisyaratkan hal itu dengan firmannaya :
ياَ مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا
مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا
بِسُلْطَانٍ
Artinya
Hai
jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan
kekuatan. (QS. Ar Rahman (55) :33)
Untuk menembus penjuru langit dan bumi diperlukan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi sebagai
kekuatan. Melihat pentingnya Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi untuk kemajuan suatu bangsa, maka madrasah harus berupaya
untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu pendidikan matematika yang
merupakan landasan dan kerangka pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan
bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis,
logis, sistematis dan memiliki sifat objektif, jujur, disiplin dalam
memecahkan suatu permasalahan baik dalam
bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa
dari SD hingga SLTA dan bahkan juga perguruan tinggi. Menurut Cornelis dalam Abdurrahman (Abdurrahman, 2009 : 253 )
ada lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan: 1)
sarana berpikir yang jelas dan logis, 2) sarana untuk memecahkan masalah
kehidupan sehari-hari, 3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi
pengalaman, 4)sarana mengembangkan
kreativitas, dan 5) sarana untuk meningkatkan
kesadaran terhadap perkmbangan budaya .
Upaya peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilakukan
dengan memperbaiki pengajaran, pengelolaan
pembelajaran, dan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar. Penelitian ini mengidentifikasi sebahagian faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar matematika dengan melihat perbedaan prestasi yang
dicapai. Faktor yang penulis maksudkan adalah motivasi belajar dan waktu
belajar matematika yang tepat yang diatur dalam roster pelajaran di madrasah.
Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah beberapa kali dalam Al-Quran tentang waktu.
Sumpah Allah itu adalah Wal `ashr (demi masa) firman Allah dalam surat al-Ashr.
Sumpah Allah yang lain misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr : 1),
wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha : 1), wallaili, demi waktu malam
(asy-Syams : 3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams : 4). Waktu –
waktu inilah yang digunakan untuk
belajar, bekerja, beristirahat, dan beribadah.
Allah
SWT. firman dalam al- Qur’an yang menunjukkan isyarat
penggunaan waktu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ
مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ
مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ
الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشَاءِ ثَلاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ
Artinya
Hai
orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu
miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada
kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu
menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya.
(Itulah) tiga 'aurat bagi kamu” .(Q.S. An Nur : 58)
Ayat di atas berbicara tentang sopan santun pergaulan , agar
hendaklah mereka semua meminta izin kepada kamu pada tiga kali yakni tiga waktu
dalam satu hari. Menurut M. Quraish Shihab (M. Quraish Shihab, 2002: 395 ) “
Ketiga waktu itu yaitu : “ pertama sebelum sholat subuh, karena ketika itu
adalah waktu bangun tidur di mana pakaian sehari-hari belum dipakai. Yang
kedua, ketika kamu menanggalkan pakaian luar kamu di tengah hari karena akan
berbaring atau beristirahat dan yang ketiga, adalah sesudah shalat isya’ sampai
sepanjang malam karena ketika itu kamu sudah bersiap tidur atau sedang tertidur
“
Menurut Sujanto (Sujanto, 2002
: 94), bahwa pelajaran yang berat (membutuhkan konsentrasi tinggi) sebaiknya
diberikan pada pagi hari dan yang ringan diberikan pada sesudah anak payah
(siang hari). Karena menurut Noehi Nasution (Noehi Nasution, 1993 : 6 ), Orang
yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan minat belajarnya dari orang
yang dalam keadaan kelelahan atau sakit dan sebagainya Sedangkan menururt Slameto (Slameto, 2002 : 60 ), Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah
menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. Sehingga perlu
diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan. Lanjut Slameto (Slameto, 2002: 68) mengatakan “ siswa yang belajar dipagi hari ,
pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik. Jika siswa bermadrasah
pada waktu kondisi badannya sudah lelah/lemah, misalnya pada siang hari, akan
mengalami kesulitan di dalam menerima pelajaran..
Penelitian Ekha Satriani Syackhrani tahun 2009, membuktikan bahwa
terdapat perbedaan antara hasil belajar
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Palopo yang belajar pada jam pelajaran
awal dan siswa yang belajar pada jam pelajaran akhir.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa, Allah SWT
menjadikan waktu dengan maksud dan tujuan tertentu. Jika manusia mengisi waktu sebagaimana yang
dikehendaki oleh Allah penciptanya yang Maha Mengetahui maka akan mendapatkan keberkahan (hasilnya
memuaskan), sebaliknya jika waktu digunakan tidak tepat maka hasilnya tidak akan memuaskan. Waktu yang tepat bagi siswa untuk belajar adalah waktu dimana siswa merasa
siap untuk belajar dan memiliki semangat yang kuat untuk mengikuti
pelajaran. PBM yang dilaksanakan pagi
hari cenderung berdampak baik pada motivasi dan semangat siswa dibandingkan PBM
pada siang hari. Jika seseorang belajar
secara maksimal di pagi hari (jam
pelajaran awal) maka pada siang hari
(jam pelajaran akhir) akan membutuhkan
istirahat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar